Langsung ke konten utama

Episode 1 : Tentangmu, Bukan Aku

 

Source: Pinterest

TETANG LANA : 

Terlalu Indah 

Untuk Nyata

Ini tentang seorang temanku. Ilana Aurora namanya, dipanggil Lana. Ia tersenyum kala itu. Mendengarkan cerita dari pemuda yang duduk di hadapannya. Pemuda wibu yang entah bagaimana selalu mencari Lana untuk membagikan rasa bahagianya. 

Melihat wajah bahagia pemuda yang sudah jelas disukainya itu membuatku terkadang tak habis pikir dengan gadis satu ini. Bisa-bisanya, ia masih tersenyum sekalipun tahu sang pemuda tengah menceritakan mengenai orang yang telah mencuri hati pemuda itu, mendahului Lana.

Sialnya lagi, kini Lana terlihat persis seperti orang bodoh yang mau-mau saja memberikan saran jika sang pemuda meminta saran darinya.

Berkali-kali kata 'lagi' terucap untuk tindakan Lana kepada sahabatnya ini dan berkali-kali kata 'tetapi' menghadang kebahagiaan Lana. Memang, menyukai tak seindah novel. Apalagi bila sudah terjerat dalam hubungan persahabatan. 

Basi ceritanya?

Iya, memang. Nyaris semua orang mengalaminya. Nyaris tak ada kata persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Itu sih kata para korban friendzone. Padahal mah ada persahabatan semacam itu. Namanya sudut pandang yang pernah mengalami. Mungkin mereka memang nyamannya sama yang sudah dekat. 

Eh, pas udah dekat malah terasa jauh? Yah, nasib. Mau bagaimana lagi.

Kembali ke Lana yang masih mendengar dengan saksama. Eits, bukan mendengar dengan saksama sih sepertinya, tetapi melihat dengan saksama. Ia bukannya jatuh hati pada fisik sahabatnya, melainkan tengah memutar kilas balik kenangannya dengan si pemuda. 

Saat itu usia mereka masih 17 tahun, tepatnya tahun 2005. Mereka duduk di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari sekolahan keduanya. Masih dengan Lana yang suka main gitar, Lana yang suka berkumpul dengan kelima sahabatnya, dan Lana yang suka bernyanyi di tempat tongkrongan mereka sembari memainkan gitarnya itu. 

"Lan, suaramu buruk," kata seseorang.

Kalau dicerita-cerita novelsih, orang yang mengejek itu adalah orang yang akan disukai oleh si tokoh utama. Sama nih ceritanya. Seseorang itu adalah pemuda yang di kemudian hari akan menjadi tempat di mana hati Lana berlabuh. Hanya dari hinaan itu, Lana pastinya marah.

Dikejarlah pemuda jahil yang tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba saja mengatai anak orang dengan sarkasnya. Lana saja tidak tahu bahwa ia dikatai demikian karena permainan ToD pemuda itu degan teman-temannya. Hingga, aksi kejar-kejaran itu berhenti ketika keduanya menabrak seseorang yang tengah membawakan pesanan berupa dua mangkuk bakso panas. Mangkuknya pecah karena gaya yang diberikan kedua anak manusia titisan siluman itu.

Tenang, cuma gaya freestyle saja, bukan gravitasi apalagi kinetik. Buktinya, pecahan mangkoknya sama bakso beserta kuah dan taugenya bertaburan ke 4 penjuru 8 arah dengan bebasnya. Bebas sih bebas, tetapi dua anak manusia itu dapat masalah dari pembeli yang sudah kelaparan. Terlebih pembelinya adalah dua orang ibu-ibu yang tinggal di sebelah rumah pemuda yang akrab disapa Dewa atau nama panjangnya Sadewa. 

Percayalah, Lana akan segera mengubah nama teman sekelasnya itu menjadi Sadewa 'Titisan Siluman' selepas kejadian ini.

Setelah mendengar ceramah panjang lebar dari dua ibu-ibu itu, Lana terpaksa harus kembali mendapatkan kesialan dengan membantu mencuci piring di sana. Bukannya tidak memiliki uang, hanya saja, untuk menambah pelajaran bagi kedua orang itu agar jera. Ibu-ibu ini juga pasti sudah memberitahu ibunya Dewa terkait hal ini.

Kembali ke masa kini di mana Lana hanya mampu terkekeh kala mengingat awal mula persahabatan mereka. Kejadian itu sudah terjadi 5 tahun yang lalu dan kini mereka sudah berusia 22 tahun.

Waktu berjalan cepat.

Dan teringat oleh Dewa satu cerita lucu tentang sahabatnya yang mengigau saat pelajaran Matematika. Terlebih, guru Matematika mereka sangat galak.

"Jadi keingat waktu kamu ngigau di jam pelajaran MTK," kata Dewa.

Memang bagi Dewa itu adalah kejadian lucu, tetapi bagi Lana itu adalah kejadian yang memalukan sekaligus menyebalkan. Mungkin yang didengar teman-teman sekelas mereka adalah Lana mengigau sembari mengatakan 'aku kesel sama kamu'. Namun, mimpi Lana saat itu terbilang terlalu indah untuk menjadi nyata.

Di kelas, saat jam istirahat, Lana makan sendiri sambil mendengarkan musik. Kemudian, Dewa menghampirinya dan menceritakan mengenai kekesalannya terhadap seorang pemuda yang tengah dekat dengan perempuan yang ia sukai.

"Siapa sih cewek yang kamu sering ceritain?"

"Yakin mau tahu?"

Lana diam sejenak. 

"Namanya Ilana Aurora. Anaknya galak, kadang-kadang malu-maluin. Cowok yang lagi dekat sama dia namanya Dewa, sahabatnya. Dia gak sadar kalau Dewa pernah suka sama dia dulu."

Suara meja diketuk dan tawa anak kelas membangunkan Lana dari mimpi indah yang dialaminya. Terasa nyata sekali hingga kenyataan menamparnya. Ternyata hanya bunga tidur. Sudah begitu pakai acara berbicara sendiri lagi saat tertidur. 

Mengapa pula harus di jam pelajaran Matematika?

Begitulah Lana yang kini tengah berusaha berhenti memikirkan Sadewa. Sudah 5 tahun kedekatan mereka dan sudah dua kali hati Lana diremukkan oleh Dewa titisan siluman satu ini.

Lana berhenti.


Warning: No Plagiat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Sajak Kamar Sebelah

  SIAPA TOKOH FIGURAN INI?